Banner
Blog Resmi Pesantren Al-ImdadMA Unggulan Al-ImdadSitus Resmi PBNUSitus Resmi PWNU DIY
Login Member
Username:
Password :
Jajak Pendapat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat
Statistik

Total Hits : 63357
Pengunjung : 15814
Hari ini : 41
Hits hari ini : 99
Member Online : 2
IP : 54.196.215.114
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

maualimdad    

Profil KH Drs. M Habib A Syakur, M.Ag di rubrik "Inspirasi" Republika 3 September 2012

Tanggal : 04-09-2012 11:42, dibaca 364 kali.

Mengelola Sampah Agar tidak Merugikan

Sampah bisa jadi sesuatu yang remeh. Namun jika tak dikelola dengan baik, sampah dapat menimbulkan persoalan serius. Pengelolaan sampah berkaitan dengan permasalahan lingkungan. Kerusakan alam dan lingkungan seringkali terjadi karena manusia lupa mengelola sampah.

Kondisi demikian menjadi perhatian Habib A Syakur, pengasuh Pondok Pesantren Al-lmdad di Dusun Kauman, Desa Wijirejo, Pandak, Bantul. Ponpes ini memiliki program pengelolaan sampah terpadu.

Program yang dimulai sejak pertengahan tahun 2010 ini bertujuan untuk memasyarakatkan budaya hidup sehat dengan menjaga kebersihan. Caranya, kata Syakur, dengan memanfaatkan limbah sebesar-besarnya dan meminimalisir dampak negatifnya.

Upaya ini dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Dan, paling penting mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir.

ldenya berawaI karena produksi sampah dan limbah di Ponpes cukup banyak. Pesantren dengan santri dalam jumlah yang tidak sedikit tentu menghasilkan volume sampah yang banyak.

“Karena kita memproduksi sampah dan limbah, kita juga harus bisa mengelolanya. Jangan sampai menimbulkan permasalahan baru," kata dia.

Selain dari pesantren, kebiasaan warga yang membuang sampah di kali atau sungai itu juga melandasi program ini. Sebelumnya telah  dilakukan upaya persuasif bekerja sama dengan organisasi kepemudaan agar warga tidak membuang sampah ke sungai.

Tulisan ajakan menjaga kebersihan lingkungan dibuat dan dipasang di sudut kampung. Namun ini belum cukup berhasil mengubah kebiasaan warga.

Kebiasaan ini tentu menyebabkan aliran air sungai tidak lancar. Akibatnya muncuI bau tidak sedap, air sungai jadi kotor, hingga meluap jika musim hujan.

Menurut Habib A Syakur, jika kondisi ini tidak diatasi, maka sampah-sampah itu dapat merugikan.

Merugikan orang lain, kata dia, merupakan bagian dari perbuatan maksiat. “Dalam pandangan agama, kemaksiatan itu perbuatan dosa. Karena itu sampah harus dikelola dengan baik agar tidak merugikan orang lain,” tutur dia.

Dia menjelaskan konsep pengelolaan sampah di Pesantren Al Imdad diawali dengan mengumpulkan sampah dan limbah, baik dari santri maupun warga. Setiap hari sampah dikumpulkan di pondok limbah pesantren. Sampah dipisahkan berdasar spesifikasi sampah organic dan anorganik.

Sampah anorganik ada yang dileburkan, atau seperti plastik dijual ke pengepul. Sisanya yang dapat dimanfaatkan digunakan sebagai media pelatihan santri membuat kerajinan sederhana. Latihan kreativitas ini sengaja mendatangkan rekan dari lnstitut Seni lndonesia (ISI) Yogyakarta untuk melatih santri.

Sampah organik diolah menjadi pupuk organik atau kompos. Sampah ditumpuk per 30 sentimeter, lalu disemprot dengan dekomposer buatan sendiri. Dekomposer dibuat dari bahan-bahan yang mudah didapat di pedesaan atau pasar tradisional. Misalnya bawang merah, pisang, tempe dan nanas. Bahan itu dilarutkan daLam larutan gula atau tetes tebu.

Cairan diendapkan selama dua minggu, kemudian dilarutkan dalam air dan disemprotkan pada sampah yang akan diproses menjadi kompos. Sekitar 20 sampai 25 hari sampah yang difermentasi tetah menjadi pupuk kompos dan siap digunakan sebagai media tanam dan pupuk.

Menurut Syakur, manfaat langsung pengelolaan sampah seperti ini membuat kebersihan terjaga. Manfaat jangka pendek seperti menghasilkan pupuk organik yang dapat dimanfaatkan untuk perkebunan.

"Ponpes punya perkebunan bibit sendiri. Kita menanam tanaman keras seperti jati, sengon dan mahoni, ada juga bibit tanaman buah seperti pepaya, jambu biji, rambutan, mangga, klengkeng dan lain-lain. Termasuk juga tanaman sayuran," tutur dia.

Hasil penjuatan bibit menjadi pemasukan pesantren untuk membiayai kehidupan santrinya. Sebab santri yang mondok di Ponpes Al Imdad tidak dipungut bayaran. Biaya makan dan sekolah ditanggung Ponpes.

Manfaat langsung lainnya, warga dipersilahkan memanfaatkan kompos hasiI pengolahan sampah pesantren. Warga tak perlu membayar.

Manfaat jangka panjangnya, kata Syakur, lebih dari sekadar sampah. Manfaat yang utama adalah masalah penghijauan dan pelestarian lingkungan.

“Karena tujuan awal konsep ini adalah menjaga lingkungan bersama-sama, pesantren juga menjalin keterlibatan dengan warga.”

Ponpes memberikan keranjang  tempat sampah di setuap rumah warga. Warga juga diminta untuk mengelompokkan sendiri sampah yang bisa diolah dan tidak bisa diolah.

“Tetapi kondisinya banyak yang dijadikan satu saja. Akhirnya di pondok limbah, ketika sampah datang dipilih dulu mana yang organik, mana yang anorganik. Setelah itu baru diolah,” ujar dia. 

Proses pembelajaran ke masyarakat dilakukan bertahap. Awalnya yang berkeliling mengambil sampah ke rumah warga adalah santri-santri yang ditugaskan khusus. Pengambilan sampah dilakukan sekali tiga hari, lalu menjadi seminggu sekali.

Pelan-pelan disampaikan pada  warga bahwa santri tidak mengambil sampah lagi. Warga diminta untuk  membuang sendiri ke pondok limbah Ponpes. “Sekarang sudah tidak diambil  santri lagi,' kata Syakur.

Sekarang ini ada tiga santri yang khusus mengolah sampah ini. Mereka diberikan insentif masing-masing Rp 20 ribu setiap harinya. Tiga santri inilah yang bertanggung jawab.

Bagi santri yang lain, pengolahan sampah hingga menghasilkan pupuk organik ini menjadi tambahan pengetahuan dan pengalaman.

"Memang tidak kita libatkan secara keseluruhan untuk pemilahan sampah dan pembuatan kompos. Tetapi mereka diwajibkan membuang sampah ke pondok limbah sebagai bentuk tanggung jawab," ungkap Syakur.

Tidak hanya di Dusun Kauman, pengolahan sampah seperti konsep Ponpes pernah diusulkan agar dilaksanakan dalam satu desa. “Tapi ide ini belum terealisasi karena ketiadaan lahan untuk menampung sampah dan butuh petugas beserta kendaraan khusus untuk keliling.”

Menurut Syakur, jika perangkat desa tertarik dan ada kesadaran menganggap pengolahan sampah penting itu sudah cukup bagus. Setidaknya pesantren mampu jadi pionir.

Selain sampah, ponpes menggalang program pemberdayaan ekonomi umat berbasis lingkungan hidup. Setiap kepala keluarga di dusun Kauman diberikan bibit tanaman pepaya untuk ditanam di pekarangan.

lni diharapkan bisa jadi aset menggerakkan ekonomi masyarakat. Bisa dikonsumsi sendiri, dijual atau bisa juga dikumpulkan ke pondok. Pesantren yang akan mencarikan pembeli. Upaya lainnya berupa penanaman pohon sengon di lahan tidur milik masyarakat dalam bentuk kemitraan.

Jadi, program yang dilaksanakan Al Imdad sebagai lembaga pendidikan keislaman tidak hanya berpengaruh pada peserta didiknya saja. Tapi juga memiliki peran pada masyarakat di sekitarnya.

“Pesantren dapat menjadi panutan masyarakat. Artinya, masyarakat juga diajak menjaga kebersihan dan mengelola sampah demi pelestarian lingkungan,” jelasnya. my2 ed: yoebal

sumber: INSPIRASI REPUBLIKA SENIN, 3 SEPTEMBER 2012 HALAMAN 32

 

 



Pengirim : yusufanas
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas